Perjalanan panjang menuju kota peradaban dunia

”Apabila kamu punya mimpi, taruh dia 5 cm menggantung di depan kening kamu, jadi nggak pernah lepas dari mata kamu. Dan sehabis itu yang kita perlu cuma kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dan leher yang akan lebih sering melihat keatas. Juga lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja dan hati yang akan bekerja lebih keras, serta mulut yang akan selalu berdoa.” (5 cm by Donny Dirgantoro)

            Inilah sebuah rangkaian kata yang menjadi penyemangatku dalam meraih mimpi sampai detik ini. sebuah rangkaian kata dari sebuah buku pemberian seorang teman sebagai hadiah ulang tahun saya empat tahun yang lalu. Ketika mahasiswa baru, Mimpi yang dulu Cuma jadi angan – angan saja tetapi di Hari jum’at, 7 oktober 2011 pukul 9 saya menginjakkan kaki dibenua eropa, di kota pusat peradaban dunia tepatnya dibandara Ory, Paris setelah menempuh perjalanan selama hampir 15 jam diudara. Mengingat kembali sebelum saya sampai ke Paris, sekitar bulan juli 2011 dari milis Himatektro ada pengumuman kompetisi OKTI / Competition Of Innovation and Scientific Writings 2011 oleh PPI Perancis. Kompetisi yang bertujuan untuk memberikan sebuah solusi untuk mempercepat pembangunan Indonesia oleh seluruh pelajar Indonesia di seluruh dunia. Saya tergerak untuk mengikuti kompetisi itu, berbekal inovasi yang saya buat dalam bentuk karya tulis mengenai inovasi untuk mengatasi kemacetan dengan judul “Smart Car System To Reducing The Car Distance In Solve To Exceed Big Cities In Indonesia”, saya mencoba untuk mengirimkan karya tulis yang pernah saya buat dalam bentuk bahasa inggris.
            Ketika pengumuman, saya kaget dan senang karena saya termasuk dari 20 besar finalis yang akan presentasi di Paris dari 67 proposal yang masuk dari 48 negara dan saya adalah satu – satunya pelajar undergraduate yang berada di Indonesia, peserta yang lain adalah pelajar Indonesia candidate Phd yang sedang belajar di berbagai negara.
            Persiapan untuk presentasi di paris menyita banyak tenaga, waktu dan pikiran karena persiapan yang sangat mepet yaitu sekitar satu setengah bulan. Banyak rintangan yang silih berganti menghadang dalam persiapan menuju paris. Mulai dari pembuatan paspor, saya pun harus bolak balik dari rumah sampai ke kantor imigrasi yang berjarak kurang lebih 40 km selama 3 hari. Rintangan lain yang saya rasakan adalah permohonan dana dan pembuatan visa. Waktu yang tinggal 1 bulan, saya harus menjalani proses pengajuan dana ke pihak birokrasi kampus dan juga dalam waktu yang bersamaan saya harus bolak balik ke konjen perancis di surabaya untuk pembuatan paspor. Puncaknya adalah ketika waktu tinggal 1 minggu usaha keras saya dalam pembuatan proposal dana, mengajukan dana sesuai aturan pihak birokrasi yang saya jalani ternyata dana yang turun dari pihak birokrasi sedikit dan visa yang belum keluar dari Kedutaan Besar Perancis untuk Indonesia. Saya pun sangat bingung dengan apa yang akan saya lakukan apakah saya harus membatalkan presentasi di paris atau tidak tetapi titik terang muncul setelah saya berkonsultasi dengan orang tua dan dukungan dari teman – teman serta visa dari Kedubes Perancis keluar, saya memutuskan untuk tetap pergi ke paris walaupun dengan dana sendiri.
Jum’at, 9 Oktober 2011
            Pukul 6 pagi, diluar hotel masih gelap tetapi orang sudah banyak yang memenuhi jalan untuk memulai aktivitas mereka, saya dan peserta lainnya siap – siap untuk berangkat ke Kedubes Indonesia untuk Perancis dipandu oleh teman – teman PPI perancis. Perjalanan menuju Kedubes, Kami naik kereta bawah tanah  karena lebih cepat dan sangat mudah. Di paris yang merupakan pusat peradaban dunia, ternyata sama seperti jakarta kesulitan mengatasi kemacetan. Satu jam kami melakukan perjalanan untuk sampai ke Kedubes Indonesia, disana sudah banyak panitia dari PPI perancis yang menyambut kami. Serangkaian acara OKTI dimulai dari sambutan Duta besar, kemudian oleh ketua PPI Perancis dan terakhir oleh ketua panitia OKTI, setelah itu acara presentasi dimulai dan yang menjadi presentator pertama adalah Ibu Wulan mahasiswa S3 Universitas kebangsaan malaysia, saya di urutan ke 12 untuk presentasi. Saya gugup, tegang dan grogi melihat beberapa peserta yang sudah presentasi, sangat menguasai dan berpengalaman, itu wajar karena mereka merupakan mahasiswa candidate Phd. Setelah makan siang, tiba giliran saya untuk presentasi, saya bertekad untuk tidak menyia – nyiakan kesempatan ini, saya harus bisa tampil yang Terbaik. saya naik podium dan memulai presentasi, entah kenapa waktu itu saya tampil dengan penuh semangat dan energik, hampir sepanjang saya presentasi, hadirin sering tertawa dan bertepuk tangan riuh dan bahkan setalah saya turun podium, banyak yang berjabat tangan mengucapkan selamat atas presentasinya. Saya pun juga diberi kesempatan sebagai narasumber di radio PPI Dunia.
            Malam hari setelah presentasi, saya bergegas pergi ke suatu tempat, Cuma berjalan kaki sekitar 15 menit, Di depanku sudah berdiri Menara Eiffel. Wajahnya tenang, angkuh dan perkasa. Ada kebanggaan akan peradaban mapan yang dipancarkannya dan seakan ingin disombongkan kepada siapa saja yang menatapnya. Ingin sepertinya dia kisahkan bahwa telah disaksikannya pergantian generasi dan lakon sejarah penting di pusat peradaban Eropa. Seakan ingin dilantunkannya tembang tentang bangun dan runtuhnya sebuah peradaban manusia ketika dia menjadi pencatat yang setia.  Aku tertegun, nyaris tidak percaya akan berkenalan dengan sang maha karya nan termasyur itu. Ingat saya dengan Andrea Hirata yang menciptakan Laskar Pelangi. Kita memang tidak boleh mendahului nasib. Mungkin sang waktu dan kesabaran memang bisa saja mengantarkan mahasiswa sepertiku untuk menjelajahi  Eropa. Mengantarku berkenalan dengan tinggalan -tinggalan peradaban yang sudah mapan.  Menara Eiffel kini bermandikan cahaya. Separuh di atasnya berwarna putih bersih sedangkan separuh di bawahnya merah menyala. Di sela-selanya ada nuansa biru yang samar tetapi anggun. Di puncak tertinggi berkelip dan berputar sinar laser menembus langit yang gelap. Sebuah pesona yang luar biasa. Sang perkasa yang tadi angkuh dan berwibawa menjelma menjadi anak perawan yang cantik dan sedikit genit menggoda. Dia seperti gadis yang mengundang tiap pemuda tampan untuk menjamahnya. Dia menawarkan keindahan yang tak akan habis direguk dan dinikmati. Eiffel memang adalah paduan kemapanan rekayasa cipta dengan keindahan yang bercita rasa. Saat malam makin memantapkan dirinya, gelap ditingkahi oleh rinai gerimis yang turun perlahan. Sebuah pemandangan yang dramatis menawarkan sebuah romansa yang pasrah untuk dinikmati. Tak salah para pujangga menyebut Paris sebagai kota cahaya dan kota cinta. Romantisme yang dihadirkan oleh pijaran cahaya yang berpadu dengan rinai gerimis dan kelakar anak manusia yang bersenda gurau memang sebegitu magisnya. Angin yang berhembus, dingin yang bisu, langit yang gelap dan bintang gemintang yang bersinar malu-malu bahkan ingin menyatakan cintanya.
KBRI, 9 Oktober 2011
            Pagi menjelang siang, Wajah-wajah para perserta nampak sedikit menegang. Saat-saat yang ditunggu telah tiba yaitu pengumuman para juara. Bapak Muhammad Najib, juri dari perusahaan Total memulai pemaparannya, beliau memulai dari penilaian umum yang sifatnya menyeluruh dan menyampaikan apresiasinya kepada seluruh peserta. Beliau menegaskan, sulit bagi dewan juri memilih juara karena semua bagus, semuanya hebat. Tibalah saatnya, Bapak Muhammad Najib mengumumkan para pemenang. Dimulai dari juara 3 didapat oleh Vidia Paramita dari Cornell University, US. Kemudian juara 2 didapat oleh Irma Sarita dari King Mongkut’s University of Technology Thonbury Bangkok, Thailand. Terakhir juara 1 didapat oleh Awang Maharijaya dari Wageningen University, Netherlands. Namaku tidak disebut, berarti saya pulang dengan hanya senyum kebanggaan berpose di Menara eiffel tetapi sesaat setelah itu, kegalauan hati pudar ketika namaku disebut sebagai The Most Favorite Participant oleh para hadirin. Saya maju kedepan podium, mendapatkan hadiah L’OREAL serta sebuah amplop yang isinya ternyata uang sebesar 200 Euro, sepucuk surat dari salah satu peserta. Bangga saya bisa menjadi salah satu peserta favorit walaupun tidak mendapatkan juara, saya bisa bersaing dengan pelajar yang punya banyak pengalaman dan tingkat ilmu lebih banyak daripada saya. Setelah rangkaian acara OKTI selesai, kesempatan yang langka dan masih cukup waktu 2 hari saya gunakan untuk jalan – jalan di setiap sudut kota paris, Menara Eiffel, Arc de Triomphe, Musee du Louvre, Notre Dame, Sacre Cour, Opera de Paris dan masih banyak lagi tempat yang saya singgahi. Pengalaman yang sangat luar biasa yang saya dapatkan di acara OKTI ini,
            Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada teman – teman PPI Perancis, seluruh peserta dan dewan juri yang mengadakan dan mensukseskan acara ini, apresiasi besar pantas diberikan kepada PPI Perancis untuk kontribusi bagi bangsa Indonesia. Saya ingat satu ucapan, bahwa semua orang bisa membuat sejarah, tetapi tidak semua orang bisa menuliskan sejarah. Apa yang dilakukan PPI Perancis dan yang ada disana telah memberikan kesempatan kepada kami untuk tidak saja menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga aktif menuliskannya. 

                Obama berkata where were you when the history took place?, maka saya akan menjawab ketika sejarah itu terjadi, saya berada disana yang membuat sejarah itu.